Hestia, Dewi Tertua di Mitologi Yunani

Apakah kamu mengenal sosok Hestia? Pasti untuk kamu yang mengikuti perkembangan dewa-dewi Yunani sudah tidak asing lagi dengan sosok Dewi tertua ini. Ia merupakan dewi Perapian yang menerima persembahan di setiap ritual yang ada pada rumah tangga. Tempat suci untuk Hestia adalah tungku perapian.

Sosok ini digambarkan sebagai dewa yang sederhana, menggunakan kerudung, dan sering duduk di singgasana kayu polos yang dilengkapi dengan bantal wol putih. Pada awalnya Orakel Delfi adalah tempat suci untuk Hestia, namun diambil alih oleh Apollo.

Tidak terlalu banyak informasi yang bisa didapatkan mengenai Hestia, namun ia adalah salah satu dewi yang penting di dalam kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno.

Hestia adalah anak dari Kronos dan Rhea sang Titan, saat kelahirannya ia ditelan oleh Kronos. Kronos sendiri memang selalu menelan anak-anaknya, ia seakan takut tahtanya akan diambil oleh anak-anaknya. Namun, ia tidak berhasil melakukan itu pada Zeus.  

Karena ramuan yang diberikan oleh Dewa Zeus, Kronos kembali memuntahkan anak-anak yang pernah ditelannya, Hestia adalah sosok terakhir yang ia muntahkan.

Dengan demikian, Hestia merupakan anak pertama dari Thea dan juga anak terakhir dari dari Kronos. Setelah terjadi perang Titanomakhia, perang antara Titan dengan para Dewa-Dewa Olimpus, Hestia mengatakan kepada para saudaranya kalau ia selalu ingin menjadi perawan.

Ia pun menolak permintaan jodoh Podeison dan Apollo, bahkan Hestia bersumpah kalau dia tidak akan pernah terikat atas pernikahan dan tidak ingin melakukan hasrat cinta atau seksual. Inilah yang membuat dirinya menjadi sosok Antitesis Aphrodite, karena ia menolak nilai cinta.

Hestia pernah hampir diperkosa oleh putra dari Dionisos dan Afrodit, yaitu Priapos. Ini terjadi saat Hestia dan para dewa sudah tertidur setelah mereka makan bersama, namun Hestia terbangun dan melihat Priapos hampir menindihnya. Ini membuat Hestia menjerit keras dan membuat Priapos ketakutan.  

Zeus menugaskan Hestia untuk memberi makan dan menjaga api perapian Olympian dengan bagian pengorbanan hewan kepada para dewa. Di mana pun makanan dimasak, atau persembahan dibakar, dia mendapat bagian kehormatannya, juga, di semua kuil para dewa, dia mendapat bagian kehormatan. “Di antara semua manusia dia adalah kepala dewi”.

Sosok yang baik hati ini jarang mengikuti prosesi pembicaraan dengan para dewa olimpus, apalagi dengan urusan para Dewa.

Saat terjadi krisis pengangkatan Dionisos, anak Dewa Zeus bersama dengan seorang manusia yang bernama Semele, Hestia rela memberikan singgasananya kepada Dionisos dengan ikhlas hati. Inilah yang membuat Hestia secara teknis sebenarnya sudah bukan lagi bagian dari dewa-dewi Olimpus, tetapi ia masih memiliki posisi yang sama dengan para dewa-dewi.

Padanan Romawi Hestia adalah, ini memiliki fungsi yang serupa sebagai personifikasi ketuhanan dari “publik” Roma, domestik, dan kolonial Roma, yang mengikat orang Romawi bersama dalam suatu bentuk keluarga besar. Namun, kesamaan nama antara Hestia dan Vesta menyesatkan: “Hubungan hestia-histie-Vesta tidak dapat dijelaskan dalam istilah linguistik Indo-Eropa; peminjaman dari bahasa ketiga juga harus dilibatkan,” menurut Walter Burkert. Mitologi dan agama lain menunjukkan dewi atau tokoh serupa. Herodotus menyamakan Tabiti Skit dengan Hestia.

Itulah sedikit pembahasan mengenai dewi Perapian, Hestia. Dengan demikian kini kita menjadi lebih mengenal lagi Dewa-Dewi Romawi yang menarik untuk dibahas. Setelah membaca ini, apakah kamu memahami mengenai Hestia?