Dewi Danu, Sang Dewi Danau

Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar atau I Ratu Atu Mas Membah, biasa dikenal dengan Dewi Danu, adalah dewi penguasa di danau atur. Ia tidak sendiri, bersama dengan putra sulungnya, Ratu Gede Dalam Dasar.

Ia merupakan permaisuri dari Ratu Sakti Pancering Jagat Terunyan, bersama dengan sang suami ia sangat dipuja. Dewi Danu adalah salah satu Batara kawitan, atau Dewa yang berasal dari leluhur yang sudah lama wafat. Perayaan Odalan dari Dewi Danu jatuh pada saat Purnama Sadha.

Selain itu Dewi Danu juga memiliki pura pemujaan sendiri, salah satu pura yang paling terkenal adalah Pura Ulun Danu Batur. Danau Batur yang dikuasai oleh Dewi Danu, airnya dimanfaatkan untuk mengairi persawahan. Dewi Danu juga dipuja sebagai dewi kesuburan.

Kali ini kami juga akan membahas mengenai cerita rakyat yang membahas mengenai Dewi Danu ini.

Cerita Rakyat Penduduk runyam

Ida Bhatara Indra adalah dewa cuaca dan juga merupakan raja kayangan. Banyak gelar yang menempel padanya, seperti dewa petir, dewa hujan, dewa perang, dan masih banyak lainnya. Suatu ketika, sang Dewa memberikan putranya sebuah tirta yang disebut dengan nama Mas Manik Mampeh di dekat danau batur.

Saat memberikannya, ia juga memberikan pesan kalau jangan sampai air dari tirta itu dimanfaatkan oleh penduduk daerah danau Batur sampai Dewi Danu berniat untuk menjualnya.

Dewi Danu memasukkan air ke dalam dua buah Lau yang pahit, lalu labu tersebut berubah menjadi pria tua yang penuh dengan kudis. Sesampainya di dusun Bubung Kelambu, ia menuangkan sedikit air itu ke dalam labu, itu karena ia khawatir akan menumpahkan airnya ketika di perjalanan.

Sesampainya dia di Munti Gunung, sang Dewi pun menawarkan air yang dibawanya ke penduduk setempat. Tetapi malah, mereka merasa jijik dan juga menghina sang dewi, mengatakan kalau dia mirip dengan pengemis.

Karena hal itu sang dewi pun mengutuk penduduk setempat itu untuk memperoleh penghidupan dari mengemis sampai saat ini. Bukan itu saja, desa-desa yang dewi batur lewati pun tidak ada yang memberi air yang dijualkan karena mereka merasa jijik.

Saat Dewi Danu melewati desa Les, ia berhasil menjual airnya sebanyak dua kepeng, hanya saja para penduduk desa hanya bisa membayar 1 kepeng. Air yang penduduk beli itu pun diberi nama Toya Mampeh, dan mereka boleh untuk setiap tahun menggantinya ke Batur.Di Desa Tejakula, Dewi berhasil menjual airnya dan dibayar dengan kerbau.

Sesampainya ia di Pantai Ponjok Batu, ia menuang sedikit air yang dibawanya lalu menjadi mata air serta bisa terlihat saat laut sedang surut.

Dewi Danu pun akhirnya tiba di suatu tempat, di sana ia menuangkan semua air yang dibawanya sambil mengatakan kalau air itu tidak bisa digunakan untuk pertanian karena inih (irit), sejak itu, tempat itu diberi nama Teh Sanih atau Air Inih.

Ketika kembali ke wujud semula, sang Dewi berniat untuk menjual kerbau yang didapatkannya yang sudah dimasukkannya ke dalam bambu. Penduduk desa Kubu yang tidak percaya dengan kerbau di dalam bambu pun menuangkan kerbau tersebut.

Pemuka adat di desa Kubu Tambahan dan Bungkulan pun mengusir kerbau-kerbau itu dan membuat para kerbau melintasi berbagai desa. Salah satu kerbau yang paling besar disembelih oleh warga dan membuat Dewi Danu marah.

Ia pun mewajibkan para warga untuk membayar pajak ke Batur, sedangkan para penduduk kubu tambahan dan bungkulan wajib membayar pajak ke seekor kerbau hidup ke Batur bergantian.

Itulah sedikit kisah mengenai Dewi Batur. 

Related Post