Batara Guru, Raja Tiga Dunia

Bagi kamu yang mengikuti kisah perwayangan, mungkin sudah tidak asing lagi dengan Batara Guru, seorang dewa yang merajai tiga dunia, yaitu Mayapada, Madyapada, dan Arcapada.

Nama Batara Guru sendiri berasal dari bahasa Sanskrit, Bhattara yang berati ‘Tuan Terhormat’ dan Guru.

Ada banyak mitologi yang membahas mengenai Batara Guru ini, di mana ia diyakini merupakan dewa Siwa yang mengatur berbagai kehidupan, seperti Wahyu, hadiah, dan beragam ilmu.

Ia memiliki istri yang bernama dewi Uma dan dewi Umaranti serta memiliki beberapa anak. Beberapa anak yang dimiliki oleh Batara Guru mulai dari yang paling sulung ke yang paling bungsu adalah:

  • Bhatara Cakra
  • Batara Sambu
  • Batara Brahma
  • Batara Indra
  • Batara Bayu
  • Batara Wisnu
  • Batara Ganesha
  • Batara Kala
  • Hanoman

Selain itu dia juga dikenal dengan nama Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyan Caturbuja, Sang Hyang Otipati, dan masih banyak lainnya.

Menurut mitologi yang ada, ia diciptakan oleh Sang Hyang Tunggal dari cahaya yang gemerlapan, bersamaan dengan cahaya berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal dari kelahiran Semar atau Ismaya.

Batara Guru sendiri memiliki dua saudara, yaitu Sang Hyang Maha Pinggung dan Sang Hyang Ismaya. Suatu ketika, ibu mereka, Dewi Rekatawati menelurkan sebutir telur yang bersinar.

Sang Hyang Tunggal (Suaminya) mengubah telur itu, kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung, Putihnya menjadi Sang Hyang Ismaya, dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya.

Hingga suatu ketika, Sang Hyang Tunggal menunjuk kedua saudaranya untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sedangkan Batara Guru atau Sang Hyang Manikmaya, memimpin para dewa di Kahyangan.

Ketika diciptakan, Batara Guru merasa yang paling sempurna tanpa cacat. Ketika mendengar hal ini, Hyang Tunggal pun bersabda kalau Manikmaya akan memiliki cacat pada kaki, belang di leger, bercaling, dan memiliki lengan empat. Sabdanya ini pun menjadi kenyataan dan benar-benar terjadi pada Batara Guru.

Hingga suatu ketika, Manikmaya merasa sangat haus dan ia menemukan sebuah telaga. Ketika sedang meminum air yang ada di telaga itu, ia tidak tahu kalau ternyata itu adalah air beracun.

Karena itu ia langsung memuntahkan air telaga yang beracun itu dan membuat ia cacat pada bagian lehernya. Ia lalu memperhatikan kalau manusia air, kakinya memiliki kelemahan di kakinya, dan seketika kakinya terkena tulah dan mebuat kaki kirinya lemah.

Saat ia sedang bertengkar dengan istrinya, dewi Uma, Manikmaya dikutuk oleh dewi Uma agar ia bercaling layaknya Raksasa, dan itu membuat Manikmaya bercaling. Kalau tidak dia akan memilih untuk bermain Judi Bola Online demi menghilangkan rasa amarahnya.

Ketika Manikmaya sedang melihat manusia sedang beribadah dengan menutupi bagian tubuhnya, Manikmaya tertawa karena ia mengira kalau manusia itu sedang menutupi bagian tubuhnya yang berlengan empat. Seketika, ia menjadi sosok dengan lengan empat.

Ini merupakan upaya dari de-hinduisasi wayang dari budaya Jawa yang dilakukan oleh Walisongo di mana ia menggunakan wayang sebagai salah satu sarana untuk menyebarkan Islam di Jawa.

Selain dalam mitologi Jawa, ada pula berdasarkan kepada Mitologi Batak. Di mana Batara Guru dianggap sebagai salah satu dari Debata Na Tolu, sosok yang menguasai Banua Ginjang.

Ada pula dari mitologi Bugis, di mana ia merupakan seorang dewa, putra Sang patotoqe dan Datu Palingeq, yang sengaja dikirim ke bumi untuk dibesarkan sebagai seorang manusia.

Itulah sedikit kisah mengenai Batara Guru, seorang dewa yang dikenal memiliki kekuasaan tinggi diantara para dewa. 

Related Post