Hari: 16 Februari 2021

Dewi Danu, Sang Dewi DanauDewi Danu, Sang Dewi Danau

Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar atau I Ratu Atu Mas Membah, biasa dikenal dengan Dewi Danu, adalah dewi penguasa di danau atur. Ia tidak sendiri, bersama dengan putra sulungnya, Ratu Gede Dalam Dasar.

Ia merupakan permaisuri dari Ratu Sakti Pancering Jagat Terunyan, bersama dengan sang suami ia sangat dipuja. Dewi Danu adalah salah satu Batara kawitan, atau Dewa yang berasal dari leluhur yang sudah lama wafat. Perayaan Odalan dari Dewi Danu jatuh pada saat Purnama Sadha.

Selain itu Dewi Danu juga memiliki pura pemujaan sendiri, salah satu pura yang paling terkenal adalah Pura Ulun Danu Batur. Danau Batur yang dikuasai oleh Dewi Danu, airnya dimanfaatkan untuk mengairi persawahan. Dewi Danu juga dipuja sebagai dewi kesuburan.

Kali ini kami juga akan membahas mengenai cerita rakyat yang membahas mengenai Dewi Danu ini.

Cerita Rakyat Penduduk runyam

Ida Bhatara Indra adalah dewa cuaca dan juga merupakan raja kayangan. Banyak gelar yang menempel padanya, seperti dewa petir, dewa hujan, dewa perang, dan masih banyak lainnya. Suatu ketika, sang Dewa memberikan putranya sebuah tirta yang disebut dengan nama Mas Manik Mampeh di dekat danau batur.

Saat memberikannya, ia juga memberikan pesan kalau jangan sampai air dari tirta itu dimanfaatkan oleh penduduk daerah danau Batur sampai Dewi Danu berniat untuk menjualnya.

Dewi Danu memasukkan air ke dalam dua buah Lau yang pahit, lalu labu tersebut berubah menjadi pria tua yang penuh dengan kudis. Sesampainya di dusun Bubung Kelambu, ia menuangkan sedikit air itu ke dalam labu, itu karena ia khawatir akan menumpahkan airnya ketika di perjalanan.

Sesampainya dia di Munti Gunung, sang Dewi pun menawarkan air yang dibawanya ke penduduk setempat. Tetapi malah, mereka merasa jijik dan juga menghina sang dewi, mengatakan kalau dia mirip dengan pengemis.

Karena hal itu sang dewi pun mengutuk penduduk setempat itu untuk memperoleh penghidupan dari mengemis sampai saat ini. Bukan itu saja, desa-desa yang dewi batur lewati pun tidak ada yang memberi air yang dijualkan karena mereka merasa jijik.

Saat Dewi Danu melewati desa Les, ia berhasil menjual airnya sebanyak dua kepeng, hanya saja para penduduk desa hanya bisa membayar 1 kepeng. Air yang penduduk beli itu pun diberi nama Toya Mampeh, dan mereka boleh untuk setiap tahun menggantinya ke Batur.Di Desa Tejakula, Dewi berhasil menjual airnya dan dibayar dengan kerbau.

Sesampainya ia di Pantai Ponjok Batu, ia menuang sedikit air yang dibawanya lalu menjadi mata air serta bisa terlihat saat laut sedang surut.

Dewi Danu pun akhirnya tiba di suatu tempat, di sana ia menuangkan semua air yang dibawanya sambil mengatakan kalau air itu tidak bisa digunakan untuk pertanian karena inih (irit), sejak itu, tempat itu diberi nama Teh Sanih atau Air Inih.

Ketika kembali ke wujud semula, sang Dewi berniat untuk menjual kerbau yang didapatkannya yang sudah dimasukkannya ke dalam bambu. Penduduk desa Kubu yang tidak percaya dengan kerbau di dalam bambu pun menuangkan kerbau tersebut.

Pemuka adat di desa Kubu Tambahan dan Bungkulan pun mengusir kerbau-kerbau itu dan membuat para kerbau melintasi berbagai desa. Salah satu kerbau yang paling besar disembelih oleh warga dan membuat Dewi Danu marah.

Ia pun mewajibkan para warga untuk membayar pajak ke Batur, sedangkan para penduduk kubu tambahan dan bungkulan wajib membayar pajak ke seekor kerbau hidup ke Batur bergantian.

Itulah sedikit kisah mengenai Dewi Batur. 

Bala Kala, Sang Dewa Dunia BawahBala Kala, Sang Dewa Dunia Bawah

Di dalam ajaran Agama Hindu, Kala merupakan putra Dewa Siwa yang merupakan dewa penguasa waktu. Dewa satu ini kerap kali disimbolkan sebagai rakshasa yang memiliki wajah menyeramkan, bahkan rupanya hampir tidak menyerupai seorang dewa.

Menurut filsafat Hindu, Kala adalah simbol kalau siapa pun tidak bisa melawan hukum karma. Jika sudah waktunya orang akan meninggalkan dunia yang fana, maka kala itu juga Kala akan datang dan menjemputnya.

Kalau orang bersikeras ingin hidup lebih lama dengan kemauannya sendiri, maka Kala akan membinasakannya. Sebabnya Kala memiliki wajah yang menakutkan dan sifatnya memaksa semua orang.

Kelahiran Batara Kala

Di dalam kitab Kala Tattawa, mengisahkan saat Dewa Siwa tengah berjalan-jalan di tepi laut bersama dengan Dewi Uma, ‘Air Mani’ dari Dewa Siwa meneter ke laut karena ia melihat betis dari Dewi Uma yang kainnya tersingkap oleh angin.

Dewa Siwa pun mengajak Dewi Uma untuk berhubungan badan, namun sang Dewi menolaknya karena mengetahui sifat Dewa Siwa yang tidak pantas. Akhirnya mereka pun kembali ke kahyangan.

Air mani dari Dewa Siwa yang menetes sebelumnya ditemukan oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Benih ini diberikan Japa Mantra dan lahirlah Rakshaha yang langsung menanyakan siapakah orang tuanya.

Karena petunjuk yang diberikan oleh sang Dewa, ia pun mengetahui kalau Dewa Brahma dan Dewi Uma adalah orang tuanya.

Dewa Siwa jika ingin mengakui raksasa sebagai anaknya, maka ia memotong taringnya yang panjang agar bisa melihat wujud dari orang tua secara utuh. Setelah syarat itu terpenuhi, Rakshasa bisa melihat wujud dari orang tuanya secara utuh.

Rakshasa pun diberkati dengan gelar Bhatara Kala, dan untuk menghormati hari lahirnya, Dewa Siwa memberikan Anugrah untuk putranya itu, yaitu ia diperbolehkan untuk memakan orang yang terlahir pada hari “Tumpek Wayang”.

Tetapi, sayangnya adik dari Dewa Siwa, Dewa Kumara lahir pada saat Tumpek Wayang. Sesuai dengan anugerah yang Dewa Siwa berikan, Kala boleh memakan adiknya itu. Tetapi Dewa Siwa memohon kepada Kala agar memakan adiknya ketika Kumara sudah dewasa.

Kesempatan tersebut digunakan oleh Siwa untuk menganugerahi Dewa Kumara agar ia selamanya menjadi anak-anak. Tetapi ternyata hal ini diketahui oleh Kala.

Karena sudah tidak sabar, ia pun mengejar Dewa Kumara. Ketika tengah melakukan pengejaran, Kala bertemu dengan Dewa Siwa dan Dewi Uma.

Mereka pun ingin dimakan oleh Kala. Sebelum di makan, Dewa Siwa memberikan teka-teki sebelum Kala memakan mereka. Batas waktu menjawab hanya sampai saat matahari sudah mencondong ke Barat.

Kala tidak bisa menjawab teka-teki yang Dewa-Dewi itu berikan dan matahari sudah menconfong ke arah Barat. Oleh karena itu ia tidak memiliki kesempatan untuk memakan Dewa Siwa dan Dewi Uma.

Karena ia tidak bisa memakan mereka berdua, Kala pun melanjutkan pencariannya untuk bisa memakan Dewa Kumara.

Di tengah pencariannya untuk memakan Dewa Kumara, Kala kelelahan. Ia pun menemukan sesajen yang dihaturkan oleh sang Amangku dalang yang tengah bermain wayang.

Sesajen tersebut  dilahap habis oleh Kala karena ia sudah merasa haus dan lapar. Terjadilah dialog antara Sang Amangku Dalang dengan Kala, di mana sang Dalang meminta agar Kala memuntahkan kembali sesajen yang sudah dimakannya.

Karena tidak dapat memenuhi keinginan sang Dalang, Kala pun berjanji tidak akan memakan orang yang lahir di hari Tumpek Wayang kalau sudah menghaturkan sesajen menggelar wayang “Sapu Leger”.

Itulah sedikit bahasan mengenai Batara Kala. Gimana? Jadi lebih mengerti tentang Kala si Dewa dunia bawah?

Sang Hyang Widhi, Dewa Tertinggi Bagi Umat Hindu, Bali.Sang Hyang Widhi, Dewa Tertinggi Bagi Umat Hindu, Bali.

Dalam agama Hindu Dharma, Sang Hyang Widhi adalah sebutan untuk Tuhan yang Maha Esa. Di dalam konsep Hinduisme, Sang Hyang Widhi ini dikaitkan dengan konsep Brahman. Selain Sang Hyang Widhi, ada pula sebutan lain yang disematkan oleh Masyarakat Bali, uaitu Acintya atau Sang Hyang Tungal. Acintya sendiri memiliki arti Dia yang Tak Terpikirkan, Dia yang Tidak Dapat Dipahami, atau juga Dia yang Tidak Dapat Dibayangkan.

Hyang sendiri merupakan sebutan untuk keberadaan spiritual yang memiliki kekuatan Supranatural dan bagai matahari yang ada di dalam mimpi. Kedatangan Hyang di dalam kehidupan seseorang bisa memberikan kesenjangan tanpa adanya jeda waktu dan bahkan tidak dapat dibedakan antara mimpi dan realita.

Umumnya, kebanyakan orang di Indonesia mengenal Hyang sebagai kata yang menggambarkan keindahan, karena semuanya ada dari pencipta, sebab dari semua yang bisa disaksikan atau kalau disederhanakan, ini disebut dengan Tuhan.

Kalau dilihat secara deskriptif, makna dari Sang Hyang Widhi tidak bisa hanya diungkapkan ke beberapa kalimat. Tetapi karena adanya Dharma, semuanya bisa paham dengan makna dari Sang Hyang Widhi lebih utuh.

Dharma sendiri merupakan pustaka atau sarana belajar yang digunakan manusia untuk memahami dan mengerti semua dari pengetahuan untuk menyelesaikan ketidaktahuan. Ini juga bisa menjadi jalan agar dapat lebih paham tentang kemahakuasaan, termasuk dengan memahami Sang Hyang Widhi. Secara nyata, ini adalah yang menyusun manusia itu tersendiri juga hal-hal yang ada di luar manusia.

Sang Hyang Widhi ini bisa dipahami dengan melihat matahari di dalam mimpi seseorang dan rasa yang ditimbulkan adalah rasa bahagia dan kesenangan luar biasa selama beberapa hari tanpa diberikan jeda. Tapi, seseorang tidak bisa melihat Matahari di dalam mimpi kalau kenyataannya di tidak perhatian dengan adanya matahari tersebut dan juga termasuk tidak memperhatikan perkembangan hari dari siang ke malam.

Kalau kita ulas secara sederhananya, Sang Hyang Widhi ini dia merupakan yang memancarkan Widhi atau menghapus segala ketidaktahuan. Dengan batasan media, yaitu cahaya, Sang Hyang Widhi merupakan sumber dari cahaya itu sendiri. Sumber cahaya ini bisa berupa matahari atau pun sumber cahaya lainnya. Dengan ini, dengan membatasi bentuk dari Widhi yaitu berupa cahaya, sang Hyang Widhi merupakan sumber dari cahaya itu.

Berikut ini akan kami bahas mengenai definisi Etimologi dari Sang Hyang Widhi:

  • Sang: Makna akan personalisasi atau identifikasi

Contoh Penggunaan Kata: Sang Bayu, Sang Nyoman, Sang Raja

  • Hyang: Maknanya terkait dengan keberadaan dari Spiritual yang dimuliakan dan juga mendapatkan penghormatan secara khusus.

Biasanya ini berkaitan dengan wujud personal dengan cahaya yang suci

  • Widhi memiliki makna yang luas, di mana artinya juga bisa sebagai penghapus ketidaktahuan. Wujud ini menjadi media, bagaimana bisa manusia dan ciptaan yang ada di jagat raya memahami mengenai diri serta lingkungan mereka.

Hal ini bisa berupa Cahaya, Suara, Wujud yang dapat Disentuh, sensasi sensori, memori yang ada di pikiran, rasa secara emosional, radiasi bintang, pengartian dari nada, rasa kecapan, dan masih banyak lainnya.

Ini sangat terkait dengan Dharma atau pun lingkungan yang merupakan pustaka abadi, di mana manusia bisa membaca secara keseluruhan pengetahuan mengenai Widhi.

Itulah sedikit bahasan mengenai Sang Hyang Widhi, mungkin artikel ini bisa membantu kamu untuk mengetahui lebih mengenai Sang Hyang Widhi.